Laporan Pemeriksaan Bencana Gerakan Tanah Di Kecamatan Kintamani

  • 14 Maret 2012
Laporan Pemeriksaan Bencana Gerakan Tanah Di Kecamatan Kintamani

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian Gerakan tanah terjadi di Desa Yehmampeh, Belandingan, Pinggan, Songan Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Bencana terjadi pada tanggal 13 Maret 2012 antara pukul 19.00 – 23.45 WITA.

 

2. Dampak Bencana

• Desa Yehmampeh; 20 (duapuluh) rumah, puluhan hektar kebun dan ladang rusak terlanda longsoran (gambar terlampir).

• Jaringan air bersih (pipa penyalur air) rusak dan air yang tersedia keruh karena tercampur material longsor.

• Jalan alternatif yang menghubungkan Yehmampeh menuju Pinggan putus dan tertimbun material longsoran.

• Aliran listrik di daerah Yehmampeh padam pada tanggal 13 -16 Maret 2012.

• Desa Belandingan; 6 (enam) orang pejalan kaki meninggal tertimbun material longsoran

• Desa Pinggan; 1 (satu) orang anak tertimbun material longsoran.

• Desa Songan; lahan pertanian rusak akibat banjir.

 

3. Kondisi daerah Bencana

A. Geologi Daerah longsoran merupakan bagian dari Dinding Kaldera II Batur yang terdiri dari material vulkanik yang bersifat lepas sehingga pada musim hujan mudah terjadi gerakan tanah.

B. Morfologi Secara umum morfologi daerah bencana di Desa Pinggan dan Bendingan merupakan perbukitan agak terjal hingga sangat terjal. Desa Yehmampeh memiliki morfologi dataran dengan kelerengan rendah desa ini merupakan daerah limpasan material longsoran dari dinding Kaldera yang terkikis oleh air yang membentuk alur berupa kipas.

C. Keairan Di lokasi gerakan tanah penduduk memanfaatkan air permukaan untuk keperluan air bersih, namun di Desa Yehmampeh ketersediaan air baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun pertanian terganggu akibat bencana tanah longsor tersebut.

D. Tata guna lahan Lahan di daerah bencana merupakan hutan pinus, ladang pertanian, permukiman dan kebun campuran. E. Kerentanan gerakan tanah Berdasarkan peta geologi Lembar Bali lokasi bencana masuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi.

 

4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah :

• Curah hujan tinggi dan lama disertai angin kencang memicu terjadinya gerakan tanah.

• Kemiringan lereng yang terjal (>25°) sehingga masa tanah mudah untuk bergerak.

• Sifat fisik batuan berupa material vulkanik yang bersifat lepas dan kelerengan terjal sehingga mudah runtuh jika dipicu curah hujan tinggi.

 

5. Rekomendasi teknis penanggulangan

Untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan harta apabila gerakan tanah terus berkembang, maka direkomendasikan beberapa upaya penanggulangan sebagai berikut :

• Material longsoran yang masih menumpuk di dinding kaldera masih berpotensi terjadi longsoran susulan sehingga masih mengancam 20 rumah tersebut di atas pada saat hujan lebat hindari beraktivitas dibawah lereng.

• Warga di 20 rumah yang terlanda di Desa Yehmampeh direlokasi ke tempat yang aman.

• Sebelum direlokasi (warga di 20 rumah) sebaiknya mengungsi jika turun hujan.

• Masyarakat dan pengguna jalan di Pinggan dan Blandingan harus meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan lebat.

• Masyarakat sekitar alur lembah sungai/alur anak sungai agar meningkatkan kewaspadaan jika hujan atau air sungai tiba-tiba keruh dan mendengar suara gemuruh.

• Tidak melakukan aktivitas di daerah potensi longsor dan aliran temporer pada saat turun hujan.

• Selalu menyiagakan backhoe dan senshoe untuk menyingkirkan materian longsoran dan pohon tumbang yang menutup badan jalan.

• Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan disekitar bukaan lembah.

• Tidak melakukan pemotongan lereng

• Tetap menjaga fungsi hutan pada lereng bagian atas dan ditanami tanaman keras yang berakar kuat dan dalam.

 

6. Kelayakan lahan tempat relokasi Tempat relokasi terhadap 20 rumah yang telah disiapkan oleh Desa Yehmampeh jika ditinjau dari daya dukung tanah dan potensi ancaman gerakan tanah merupakan tempat yang aman namun demikian lokasi tersebut terletak pada Kawasan Rawan Bencana III Gunung Batur atau berada pada lava 1963

 

7. Kegiatan yang akan dilakukan

• Pemeriksaan lokasi kejadian gerakan tanah di Kabupaten Buleleng dan Singaraja

• Sosialisasi bencana gerakan tanah dan pengurangan risiko kepada perangkat dan masyarakat

• Sosialisasi daerah rawan bencana untuk perencanaan relokasi

• Pendampingan psikolog bagi korban

  • 14 Maret 2012

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita